Iblis Dan Sejadah

iklan 336x280 atas
336x280 tengah
300x600

Siang menjelang. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jumaat, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk melalui lubang pembuangan air.Pada setiap orang, Iblis juga masuk melalui telinga, ke dalam saraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah. "Hai, Iblis!", Panggil Seorang Ulama, ketika baru masuk ke Masjid itu. Iblis merasa terusik: "Kau kerjakan saja tugasmu, wahai Ulama. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", Jawab Iblis ketus. "Ini rumah Tuhan, tempat yang suci, Kalau kau mau ganggu, kau boleh diluar nanti!", Ulama td coba mengusir. "Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru".

Ulama tercenung.

"Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu".

"Dengan apa?"

"Dengan sejadah!"

"Apa yang akan kau lakukan dengan sejadah, wahai Iblis laknatullah?"

"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sejadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"

"Bukankah itu memang cara lama yang sering kau pakai?"

"Bukan itu sahaja Kiai."

"Lalu?"

"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sejadah yang lebar-lebar"

"Untuk apa?"

"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang Kau pimpin, Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan solat. Dengan sejadah yang lebar maka barisan saf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya boleh ikut membentangkan sejadah".

Dialog Iblis dan Ulama sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sejadah. Kedua-duanya berdampingan. Salah satunya, mempunyai sejadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sejadahnya lebih kecil. Orang yang punya sejadah lebar seenaknya saja membentangkan sejadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sejadah lebih kecil, tidak enak hati jika harus mendesak jemaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berfikir panjang, pemilik sejadah kecil membentangkan saja sejadahnya, sehingga sebahagian sejadah yang lebar tertutup sepertiganya.

Kedua-duanya masih melakukan shalat sunat. "Nah, lihat itu wahai Ulama!", Iblis memulai dialog lagi.

"Yang mana?"

"Ada dua orang yang sedang shalat sunat itu. Mereka punya sejadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, saya akan masuk diantara mereka". Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan saf. Ulama hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan shalat sunat. Ulama akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sejadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sambil bangun dari sujud, dia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sejadahnya di atas sejadah yang kecil. Hingga sejadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sejadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa. Ia juga membuka sejadahnya, karena sejadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir solat. Bahkan, pada saat shalat wajib juga.

Kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, berbanding menerima di bawah. Di atas sejadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sejadah lebar, maka, ia akan meletakkan sejadahnya di atas sejadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaaan kelas. Pemilik sejadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sejadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.

Di atas sejadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.

"Astaghfirullahal adziiiim", ujar sang Ulama pelan.
336x280

Posting Komentar

0 Komentar